Rabu, 14 November 2012

SISTEM PROYEKSI PADA PETA


Pembagian Sistem Proyeksi Peta
Secara garis besar sistem proyeksi peta bisa dikelompokkan berdasarkan pertimbangan ekstrinsik dan intrinsik.
1. Pertimbangan Ekstrinsik:
Bidang proyeksi yang digunakan:
  • Proyeksi azimutal / zenital: Bidang proyeksi bidang datar.
  • Proyeksi kerucut: Bidang proyeksi bidang selimut kerucut.
  • Proyeksi silinder: Bidang proyeksi bidang selimut silinder.
Persinggungan bidang proyeksi dengan bola bumi:
  • Proyeksi Tangen: Bidang proyeksi bersinggungan dengan bola bumi.
  • Proyeksi Secant: Bidang Proyeksi berpotongan dengan bola bumi.
  • Proyeksi "Polysuperficial": Banyak bidang proyeksi
Posisi sumbu simetri bidang proyeksi terhadap sumbu bumi:
  • Proyeksi Normal: Sumbu simetri bidang proyeksi berimpit dengan sumbu bola bumi.
  • Proyeksi Miring: Sumbu simetri bidang proyeksi miring terhadap sumbu bola bumi.
  • Proyeksi Traversal: Sumbu simetri bidang proyeksi ^ terhadap sumbu bola bumi.
2. Pertimbangan Intrinsik:
Sifat asli yang dipertahankan:
  • Proyeksi Ekuivalen: Luas daerah dipertahankan: luas pada peta setelah disesuikan dengan skala peta = luas di asli pada muka bumi.
  • Proyeksi Konform: Bentuk daerah dipertahankan, sehingga sudut-sudut pada peta dipertahankan sama dengan sudut-sudut di muka bumi.
  • Proyeksi Ekuidistan: Jarak antar titik di peta setelah disesuaikan dengan skala peta sama dengan jarak asli di muka bumi.

Cara penurunan peta:
  • Proyeksi Geometris: Proyeksi perspektif atau proyeksi sentral.
  • Proyeksi Matematis: Semuanya diperoleh dengan hitungan matematis.
  • Proyeksi Semi Geometris: Sebagian peta diperoleh dengan cara proyeksi dan sebagian lainnya diperoleh dengan cara matematis.
Klasifikasi dan Pemilihan Proyeksi Peta
Proyeksi Peta dapat diklasifikan menurut bidang proyeksi yang digunakan, posisi
sumbu simetri bidang proyeksi, kedudukan bidang proyeksi terhadap bumi, dan ketentuan
geometrik yang dipenuhi.

Menurut bidang proyeksi yang digunakan
Bidang proyeksi adalah bidang yang digunakan untuk memproyeksikan gambaran
permukaan bumi. Bidang proyeksi merupakan bidang yang dapat didatarkan. Menurut
bidang proyeksi yang digunakan, jenis proyeksi peta adalah:
  • Proyeksi Azimuthal
Bidang proyeksi yang digunakan adalah bidang datar. Sumbu simetri dari proyeksi ini adalah garis yang melalui pusat bumi dan tegak lurus terhadap bidang proyeksi
  • Proyeksi Kerucut (Conic)
Bidang proyeksi yang digunakan adalah kerucut. Sumbu simetri dari proyeksi ini adalah sumbu dari kerucut yang melalui pusat bumi.
  • Proyeksi Silinder (Cylindrical)
Bidang proyeksi yang digunakan adalah silinder. Sumbu simetri dari proyeksi ini adalah sumbu dari silinder yang melalui pusat bumi.
Menurut posisi sumbu simetri bidang proyeksi yang digunakan
Menurut posisi sumbu simetri bidang proyeksi yang digunakan, jenis proyeksi peta adalah:
  • Proyeksi Normal (Polar): Sumbu simetri bidang proyeksi berimpit dengan sumbu bumi
  • Proyeksi Miring (Oblique): Sumbu simetri bidang proyeksi membentuk sudut terhadap sumbu bumi
  • Proyeksi Transversal (Equatorial): Sumbu simetri bidang proyeksi tegak lurus terhadap sumbu bumi
Proyeksi Konform
Besar sudut atau arah suatu garis yang digambarkan di atas peta sama dengan besar sudut atau arah sebenarnya di permukaan bumi, sehingga dengan memperhatikan factor skala peta bentuk yang digambarkan di atas peta akan sesuai dengan bentuk yang sebenarnya di permukaan bumi. 

Proyeksi Ekuivalen
Luas permukaan yang digambarkan di atas peta sama dengan luas sebenarnya di permukaan bumi (dengan memperhatikan faktor skala peta) 

Proyeksi Peta yang umum dipakai di Indonesia
Proyeksi Polyeder
Proyeksi Polyeder adalah proyeksi kerucut normal konform. Pada proyeksi ini, setiap
bagian derajat dibatasai oleh dua garis paralel dan dua garis meridian yang masing-masing
berjarak 20′. Diantara kedua paralel tersebut terdapat garis paralel rata-rata yang disebut
sebagai paralel standar dan garis meridian rata-rata yang disebut meridian standar. Titik
potong antara garis paralel standar dan garis meridian standar disebut sebagi ‘titik . Setiap bagian derajat proyeksi Polyeder diberi nomor dengan
dua digit angka. Digit pertama yang menggunakan angka romawi menunjukan letak garis
sedangkan digit kedua yang menggunakan angka arab menunjukangaris meridian standarnya (λ 0).
Untuk wilayah Indonesia penomoran bagian derajatnya adalah :
Paralel standar : dimulai dari I (ϕ 0 = 6°50′ LU) sampai LI (ϕ 0 =10°50′ LU)
Meridian standar : dimulai dari 1 (λ 0 =11°50′ BT) sampai 96 (λ 0 =19°50′ BT)
Proyeksi Polyeder beracuan pada Ellipsoida Bessel 1841 dan meridian nol Jakarta
(λ Jakarta =106°48′ 27′′,79 BT)

SISTEM KOORDINAT
Jika membicarakan proyeksi kita sering membicarakan Sistem Koordinat. Sistem koordinat merupakan suatu parameter yang menunjukkan bagaimana suatu objek diletakkan dalam koordinat. Ada tiga system koordinat yang digunakan pada pemetaan yakni :
1.Sistem Koordinat 1 Dimensi : satu sumbu koordinat
2.Sistem Koordinat 2 Dimensi.
3.Sistem Koordinat 3 Dimensi.


Kalau kita memperhatikan sebuah peta, kita akan melihat garis-garis membujur (menurun) dan melintang (mendatar) yang akan membantu kita untuk menentukan posisi suatu tempat di muka bumi.Garis-garis koordinat tersebut memiliki ukuran (dalam bentuk angka) yang dibuat berdasarkan kesepakatan. Perpotongan antara garis bujur dan garis lintang yang disebut dengan koordinat peta.
Sistem Koordinat merupakan kesepakatan tata cara menentukan posisi suatu tempat di muka bumi ini. Dengan adanya sistem koordinat, masyarakat menjadi saling memehami posisi masing- masing di permukaan bumi. Dengan sistem koordinat pula, pemetaan suatu wilayah menjadi lebih mudah.
Saat ini terdapat dua sistem koordinat yang biasa digunakan di Indonesia, yaitu system koordinat BUJUR- LINTANG dan sistem koordinat UTM (Universal Transverse Mercator). Tidak semua sistem koordinat cocok untuk dipakai di semua wilayah. Sistem koordinat bujur-lintang tidak cocok digunakan di tempat-rempat yang berdekatan dengan kutub sebab garis bujur akan menjadi terlalu pendek. Tetapi, kedua sistem koordinat tersebut cocok digunakan di Indonesia.
Sistem koordinat bujur-lintang (atau dalam bahasa Inggris disebut Latitude-Longitude), terdiri dari dua komponen yang menentukan, yaitu :
  1. Garis dari atas ke bawah (vertikal) yang menghubungkan kutub utara dengan kutub selatan bumi, disebut juga garis lintang (Latitude).
  2. Garis mendatar (horizontal) yang sejajar dengan garis khatulistiwa, disebut juga garis bujur (Longitude).
Sistem Koordinat UTM (Universal Transverse Mercator)
Koordinat Universal Transverse Mercator atau biasa disebut dengan UTM, memang tidak terlalu dikenal di Indonesia karena lebih sering menggunakan koordinat bujur-lintang.

Pembagian Zona Dalam Koordinat UTM
Seluruh wilayah yang ada di permukaan bumi dibagi menjadi 60 zona bujur. Zona 1 dimulai dari lautan teduh (pertemuan antara garis 180 Bujur Barat dan 180 Bujur Timur), menuju ke timur dan berakhir di tempat berawalnya zona 1. Masing-masing zona bujur memiliki lebar 6 (derajat) atau sekitar 667 kilometer. Garis lintang UTM dibagi menjadi 20 zona lintang dengan panjang masing-masing zona adalah 8 (derajat) atau sekitar 890 km. Zona lintang dimulai dari 80 LS - 72 LS diberi nama zona C dan berakhir pada zona X yang terletak pada koordinat 72 LU - 84 LU. Huruf (I) dan (O) tidak dipergunakan dalam penamaan zona lintang. Dengan demikian penamaan setiap zona UTM adalah koordinasi antara kode angka (garis bujur) dan kode huruf (garis lintang). Sebagai contoh kabupaten Garut terletak pada zona 47M dan 48M, Kabupaten Jember terletak di zona 49M.

Kelebihan dan Kekurangan Sistem Koordinat UTM
Berikut ini adalah beberapa kelebihan koordinat UTM :
  • Proyeksinya (sistem sumbu) untuk setiap zona sama dengan lebar bujur 6 .
  • Transformasi koordinat dari zona ke zona dapat dikerjakan dengan rumus yang sama untuk setiap zona di seluruh dunia.
  • Penyimpangannya cukup kecil, antara... -40 cm/ 1000m sampai dengan 70 cm/ 1000m.
  • Setiap zona berukuran 6 bujur X 8 lintang (kecuali pada lintang 72 LU-84 LU memiliki ukuran 6 bujur X 12 lintang).

batuan beku 2

Batuan Beku

Tinjauan Umum Batuan Beku
Merupakan kumpulan mineral-mineral baik yang sejenis maupun yang tidak sejenis yang terbentuk dari pembekuan magma (kristalisasi magma). Magma sendiri merupakan larutan silikat panas yang mengandung senyawa oksida, sulfide dan gas-gas (volatile). Bila temperatur magma turun hingga mencapai titik beku, maka magma akan mulai mengkristal. Umumnya mineral-mineral yang sukar larut akan mengkristal dahulu kemudian diikuti mineral-mineral yang mudah larut.
Mineral utama pembentuk batuan mengkristal mengikuti suatu pola perurutan kristalisasi. Pola perurutan kristalisasi disebut deret Bowen. Tetapi walaupun demikian deret Bowen tidak selalu berlaku. Pada deret Bowen ditunjukkan bahwa mineral pertama terbentuk cenderung mengandung silica yang rendah. Pada seri menerus (continius) mineral terbenuk pertama adalah Plagioklas- Ca akan terus menerus bereaksi dengan larutan sisa magma selama proses pendinginan berlangsung, maksudnya disini adalah terus terjadi penggantian (substitusi) unsur Ca dengan unsur Na. Sedangkan pada seri yang tidak menerus (discontinius) terdiri dari mineral yang kaya unsur Fe dan Mg, disebut juga mineral Ferromagnesium. Mineral yang pertama terbentuk adalah mineral Olivin kemudian dilanjutkan oleh pembentukan mineral selanjutnya dengan larutan sisa magma yang ada tanpa terjadi reaksi antara larutan sisa magma dengan mineral yang telah terbentuk.
Ciri-ciri batuan beku :
1) Batuan yang memiliki kenampakan yang seragam disepanjang tubuhnya.
2) Bila batuan intrusi akan memotong (diskordan) atau sejajar (konkordan) dengan batuan sekitarnya.
3) Terdapat mineral-mineral yang terbentuk langsung dari pembekuan magma seperti kuarsa, plagioklas, K-feldspar


Asal Batuan Beku
Cairan atau larutan silikat pijar yang terbentuk secara ilmiah,bersifat mobile,bersuhu antara 9000-12000 atau lebih berasal dari kerak bumi bagian bawah atau selubung bumi bagian atas (vide F.F. GROUTS, 1947; TURNER dan VERHOOGEN, 1960;H.WILLIAM, 1962).
Komposisi magma dikontrol oleh elemen-elemen yang dapat berlimpah di bumi yaitu Al, Fe, Ca, Mg, Na, K, H dan O. Karena anion O2-, maka umunya komposisi magma diekspresikan dalam oksida seperti SiO2, Al2O3, CaO, dan H2O.


Berdasarkan analisa kimia dari sample batuan beku terdiri dari :
1. Senyawa-senyawa yang bersifat non volatil dan merupakan unsur oksida dalam magma jumlahnya sekitar 99% dari seluruh isi magma sehingga merupakan mayor elemen, terdiri dari oksida SiO2, Al2O3, Fe2O3, FeO, MnO, CaO, Na2O, K2O, TiO2, P2O5.
2. Senyawa volatil yang banyak pengaruhnya terhadap magma terdiri dari fraksi-fraksi gas CH4, CO2, HCl, H2S, SO2.
3. Unsur-unsur lain yang disebut unsur jejak (trace element) dan merupakan minor elemen seperti Rb, Ba, Sr, Ni, CO, V, Li, Cr, S dan Pb.
(Bunsen 1951, vide W.T. Huang 1962), mempunyai pendapat ada dua jenis magma primer yaitu basaltic dan granitic, dan batuan beku merupakan hasil campuran dari dua magma ini yang kemudian mempunyai komposisi lain.
(Dailly Winkler, 1933, Vide W.T. Huang 1962), berpendapat lain yaitu magma asli (primer) adalah bersifat basa yang selanjutnya akan mengalami proses differensiasi magmatik akan menjadi magma bersifat lain.
Magma basa bersifat lebih encer (vikositas rendah), kandungan unsur kimia berat, kadar H+, OH- dan gas tinggi. Sedangkan magma asam adalah sebaliknya.

Reaksi Bowen Series

Evolusi Magma
a). Differensiasi magma
Magma adalah cairan atau silikat pijar yang terbentuk secara alamiah, bersifat mobile, bersuhu antara 9000 – 11000 dan berasal dari kerak bumi bagian bawah atau selubung bumi bagian atas (Vide F.F. Grosts, 1974, Turner & Verhoogen, 1960, H. Williams, 1962).
Magma sebagai larutan silikat alam mengandung semua ion-ion yang bakal membentuk semua mineral-mineral pembentuk batuan, namun mineral tersebut tidak terbentuk bersamaan karena tergantung pada fase silikat dengan kondisi tertentu. Dalam arti mineral tertentu akan mengkristal pada temperature dan kondisi tertentu.
Pada umumnya diterima pendapat bahwa magma asli bersifat basa (Dally, 1933, Winkler vide W.T. Huang, 1962). Tetapi sifat magma dapat berubah menjadi magma yang bersifat lain, oleh proses-proses yang disebut :
 Hibridasi : ialah pembentukan magma baru, karena percampuran dua magma yang berlainan jenisnya.
 Sinteksis : ialah proses pembentukan magma karena proses asimilasi dengan batuan samping atau terlarutnya batuan asing kedalam magma.

Dari magma dengan kondisi tertentu ini selanjutnya mengalami diferensiasi magmatik, ialah semua proses yang mengubah magma homogen berskala besar menjadi batuan beku dengan komposisi yang bervariasi (W.THuang, 1962). Proses tersebut antara lain :
 Fraksinasi : ialah pemisahan kristal dari larutan pada waktu terjadi pendinginan magma atau kristal-kristal pada waktu pendinginan magma tidak dapat mengikuti perkembangan komposisi larutan magma yang baru. Proses fraksinasi ini merupakan proses diferensiasi yang paling utama.
 Gravitational settling : ialah pengendapan kristal-kristal oleh gaya gravitasinya, sehingga mineral yang berat akan memperkaya bagian dasarnya (waduk magma) dan posisinya berada dibawah mineral yang lebih ringan.
 Liquid immisibility : ialah larutan magma yang mempunyai suhu dan tekanan yang tinggi, pada suhu rendah akan pecah menjadi fraksinasi larutan yang masing-masing membeku membentuk batuan yang heterogen.
 Vesiculation : ialah suatu proses dimana magma yang mengandung CO2, SO2, H2O, sewaktu naik kepermukaan membentuk gelembung-gelembung gas yang membawa serta komponen volatile seperti sodium dan potassium.
 Assimilasi
Evolusi magma dapat juga dipengaruhi oleh reaksi-reaksi dengan batuan sekitarnya wall rock. Jika magma yang menerobos kepermukaan temperaturnya lebih tinggi dari pada temperatur batuan sekitarnya tersebut hingga mempengaruhi komposisi magma tersebut. Hal ini sering terjadi terutama pada magma plutonik karena letaknya yang jauh dari permukaan bumi.
 Proses pencampuran magma
Maksudnya adalah dua batuan yang terbentuknya berbeda seperti batuan vulkanik dan batuan intrusi dangkal dapat juga dihasilkan dari campuran sebagian kristalin, yaitu kristalisasi magma. Contohnya adalah batuan basalt, andesit dan rhyolit di colorado dihasilkan dari pergantian erupsi yang cepat dari suatu lubang erupsi.

Komposisi Mineral Batuan Beku
Ada tiga kelompok batuan beku menurut W.T. Huang, 1962, yaitu :
1. Mineral utama (Essential Mineral)
Merupakan mineral-mineral yang terbentuk langsung dari kristalisasi magma. Berdasarkan warna / magma dan densitasnya (H. Williams, 1982) dapat dikelompokkan menjadi :
a) Mineral felsik : antara lain kuarsa, albit, feldspatoid.
b) Mineral mafik : antara lain olivin, piroksin, amphibol.
2. Mineral sekunder (Secondary Mineral)
Merupakan mineral-mineral tambahan atau mineral ubahan dari mineral utama (hasil rekristalisasi magma) dapat juga hasil pelapukan, reaksi kimia atau hasil metamorfisme. Contoh : kalsit, magnesit, siderite, kaolin, serpentine.
3. Mineral tambahan (Accesory Mineral)
Merupakan mineral-mineral yang terbentuk pada kristalisasi magma, tetapi kehadirannya adalah dalam jumlah sedikit dan tidak menentukan nama dari sifat batuan. Contoh : hematite, kromit, muscovite.

Tekstur Batuan Beku
Tekstur dalam batuan beku dapat diterangkan sebagai hubungan atau kenampakan yang erat antara unsur-unsur mineral dengan massa gelas yang membentuk massa yang merata dari batuan. Selama pembentukan tekstur tergantung pada kecepatan orde kristalisasi. Dimana keduanya sangat bergantung pada temperature, komposisi, kandungan gas, viskositas magma dan tekanan. Dengan demikian tekstur merupakan fungsi dari sejarah pembentukan suatu batuan.

Derajat kristalisasi
Derajat kristalisasi merupakan keadaan bagaimana proporsi antara massa kristal dan massa gelas didalam batuan beku. Dikenal tiga kelas derajat kristalisasi yaitu :
 Holokristalin, yaitu apabila batuan tersebut tersusun seluruhnya massa kristal.
 Hipokristalin, yaitu apabila batuan tersebut tersusun oleh massa kristal dan massa gelas.
 Holohialin, yaitu apabila batuan tersebut tersusun seluruhnya oleh massa gelas.

Granularitas
Ukuran butir kristal dalam batuan beku dapat sangat halus yang tidak dapat dikenali meskipun menggunakan mikroskop, tetapi dapat pula sangat besar. Umumnya dikenal dua kelompok tekstur dan ukuran butir yaitu afanitik dan fanerik.
 Afanitik
Dikatakan afanitik apabila ukuran butir individu kristal sangat halus sehingga tidak dapat dibedakan dengan mata telanjang. Batuan yang bertekstur afanitik dapat tersusun atas kristal, gelas atau keduanya. Disebut mikrokristalin apabila kristal individu dapat dikenal dan dilihat dengan menggunakan mikroskop tetapi apabila tidak dapat dikenali disebut Kriptokristalin.
 Fanerik
Kristal individu yang termasuk kristal fanerik dapat dibedakan menjadi ukuran-ukuran yaitu :
 Halus, apabila ukuran diameter rata-rata kristal individu <1mm.  Sedang, apabila ukuran diameter kristal antara 1mm – 5mm.  Kasar, apabila ukuran diameter kristal 5mm – 30mm.  Sangat kasar, apabila ukuran diameter kristal >30mm.

Derajat kristalinitas dan granularitas dipengaruhi oleh komposisi kimia magma yang dalam hal ini akan mempengaruhi viskositas, kecepatan pendinginan dan kedalaman sebagai fungsi tekanan. Magma dengan viskositas rendah dibawah tekanan tinggi, maka kristalnya akan tumbuh dengan baik dan sebaliknya untuk magma yang derajat viskositasnya tinggi serta dekat dengan permukaan. Dalam hal ini batuan holokristalin dengan ukuran butir sedang hingga kasar merupakan ciri untuk batuan plutonik, sedangkan untuk batuan kristalin halus, afanitik dan gelasan, terbentuknya akibat pendinginan yang cepat dan viskositas magmanya tinggi, yang khas terjadi pada magma ekstrusif, intrusif dangkal.

Kemas
Kemas meliputi bentuk butir dan susunan hubungan antar butir kristal dalam batuan beku. Ditinjau dari pandangan dua dimensi / secara individu bentuk butir mineral atau secara individu bentuk butir mineral dibedakan atas :
a) Subhedral, yaitu apabila bentuk kristal dari butiran mineral dibatasi oleh sebagian bidang kristal yang sempurna.
b) Euhedral, yaitu apabila bentuk kristal dari butiran mineral mempunyai bidang kristal yang sempurna.
c) Anhedral, yaitu apabila bentuk kristal dari butiran mineral tidak dibatasi oleh bidang kristal yang tidak sempurna.

Sedangkan fabric (kemas) dibedakan atas :
1) Granular atau equigranular, apabila mineralnya mempunyai ukuran butir yang relatif sama atau seragam, terdiri dari :
a) Panidiamorfik granular, yaitu sebagian besar mineralnya mempunyai ukuran butir relatif seragam dan euhedral.
b) Hipidiamorfik granular yaitu apabila sebagian besar mineralnya berukuran relative seragam dan subhedral.
c) Allotriamorfik granular, yaitu apabila sebagian besar mineralnya berukuran relatif seragam dan anhedral.
2) Inequigranular, yaitu apabila mineralnya mempunyai ukuran butir tidak sama, antara lain :
a) Porfiritik, yaitu tekstur batuan beku dimana kristal-kristal besar tertanam dalam massa dasar yang lebih halus, dapat berupa butir kristal berukuran halus.
b) Vitroferi, yaitu apabila fenokris tertanam dalam massa dasar berupa gelas.
c) Porfiro afanitik yaitu apabila fenokris tertanam dalam massa dasar afanitik
d) Felsoferik yaitu apabila fenokris tertanam dalam massa dasar berupa pertumbuhan bersama (intergrowth) antara feldspar dan kuarsa.
3) Tekstur khusus adalah tekstur disamping menunjukkan hubungan antara bentuk dan ukuran butir juga ada yang menunjukkan pertumbuhan bersama antara mineral-mineral yang berbeda, terdiri dari :
a) Ofitik, tekstur dimana plagioklas intergrowth dengan piroksin, dimana diameter butir plagioklas lebih kecil daripada piroksin.
b) Sub ofitik, sama dengan ofitik hanya diameter plagioklas lebih besar dari piroksin.
c) Diabasik, tekstur dimana plagioklas tumbuh bersama dengan piroksin, disini piroksin tidak terlihat jelas dan plagioklas radier terhadap piroksin.
d) Intergranular, tekstur dimana ruang antar kristal-kristal plagioklas ditempati oleh kristal-krisal piroksin, olivine atau bijih besi.
e) Intersertal, hamper sama dengan intergranular, hanya disini ruang antar plagioklas diisi oleh massa gelas, kriptokristalin ataupun mineral-mineral sekunder dan mineral tambahan.
f) Poikilitik, tekstur dimana suatu kristal besar / fenokris menginklusi mineral-mineral lain yang lebih kecil.
g) Trakhitik, tekstur dimana fenokris atau mikrolit alkali feldspar menunjukkan pola terarah / kesejajaran.
h) Hialopilitik, sama dengan trakhitik hanya disini ruang antar plagioklas diisi oleh gelas.
i) Pertit, tekstur dimana alkali feldspar tumbuh bersama dengan plagioklas (albit), dalam hal ini alkali feldspar berkembang lebih besar.
j) Antipertit, hamper sama dengan pertit, hanya disini plagioklas berkembang lebih besar.
k) Grafik, tekstur dimana alkali feldspar tumbuh bersama dengan kuarsa, disini kuarsa mempunyai bentuk butir seperti huruf kuno/ runcing.

Struktur
Struktur merupakan kenampakan tekstur dalam skala besar, yang dapat jelas di lapangan. Macam-macam struktur batuan beku adalah :
 Massive yaitu struktur dari batuan beku apabila tidak menunjukkan adanya sifat aliran atau jejak gas, atau tidak menunjukkan adanya fragmen batuan lain yang tertanam dalam tubuhnya.
 Pillow lava atau lava bantal yaitu merupakan struktur khas pada batuan vulkanik bawah laut, membentuk struktur seperti bantal.
 Joint yaitu struktur yang ditandai dengan adanya kekar-kekar yang tersusun secara teratur tegak lurus arah aliran. Struktur ini dapat berkembang menjadi “columnar joint”.
 Vesikuler yaitu merupakan struktur yang ditandai adanya lubang-lubang dengan arah teratur. Lubang ini terbentuk akibat keluarnya gas pada waktu pembekuan berlangsung.
 Scoria, seperti vesikuler tetapi tidak menunjukkan arah yang teratur.
 Amikdoloidal yaitu struktur dimana lubang-lubang keluarnya gas terisi mineral-mineral sekunder seperti : zeolith, karbonat dan bermacam silica.
 Xenolith yaitu struktur yang memperlihatkan adanya suatu fragmen batuan yang masuk atau tertanam dalam batuan beku. Struktur ini terbentuk sebagai akibat peleburan tidak sempurna dari suatu batuan samping didalam magma yang menerobos.

Klasifikasi Batuan Beku
Berbagai klasifikasi telah dikemukakan oleh beberapa ahli, sehingga kadang-kadang satu batuan pada klasifikasi lain namanya bias berlainan pula. Dengan demikian seorang petrologi harus benar-benar mengerti akan dasar penamaan yang diberikan pada suatu batuan beku.

Klasifikasi Berdasarkan Tempat Terjadinya
 Batuan plutonik
Yaitu batuan yang terbentuk jauh didalam perut bumi.
Bentuk-bentuk batuan intrusi :
a. Konkordan
Merupakan suatu bentuk intrusi yang memiliki hubungan struktur yang selaras dengan batan sekitarnya, jenisnya antara lain :
1) Sill atau sheet yaitu batuan intrusi yang memiliki kedudukan yang sejajar dengan bidang perlapisan batuan sekitarnya. Kedudukannya boleh horizontal, miring atau vertical.
2) Lakolit, yaitu batuan intrusi yang memiliki bentuk kubah dengan sudut kemiringan yang relative sama ke berbagai arah.
3) Pakolit yaitu batuan intrusi yang memiliki bentuk lensa dan melengkung keatas.
4) Lapolit yaitu batuan intrusi yang memiliki bentuk melengkung kebawah dan kebalikan dari pakolit.
b. Diskordan
Merupakan suatu bentuk intrusi yang memiliki kedudukan tidak selaras atau memotong batuan sekitarnya, jenisnya antara lain :
1) Dike yaitu intrusi yang berbentuk seperti tabung atau tabular dan memanjang.
2) Stock yaitu batuan intrusi yang memiliki dinding vertical dan penampang bulat.
3) Batholit yaitu batuan intrusi yang berukuran besar dan bentuk yang beragam.

 Batuan Hipobisal
Yaitu batuan yang terbentuk didalam perut bumi tetapi tidak jauh dari permukaan.

 Batuan Vulkanik
Yaitu batuan yang terbentuk di permukaan bumi. Batuan plutonik dan hipobisal disebut juga batuan intrusive sedangkan batuan vulkanik disebut juga batuan ektrusif.

Klasifikasi Berdasarkan Kimiawi
Klasifikasi ini telah lama menjadi standar dalam geologi (C.J. Hughes, 1962), dan dibagi dalam empat golongan, yaitu :
1) Batuan beku asam, bila batuan beku tersebut mengandung lebih 66% SiO2, contoh : granit, riolit.
2) Batuan beku intermedier, bila batuan beku tersebut mengandung 52% - 66% SiO2. contoh : diorite, andesit.
3) Batuan beku basa, bila mengandung 45% - 52% SiO2. contoh : gabro.
4) Batuan beku ultrabasa, jika mengandung kurang dari 45% SiO2. contoh : peridotit, dunit.

Klasifikasi Berdasarkan Mineralogi
Dalam klasifikasi ini indeks warna akan menunjukkan perbandingan mineral mafik dan felsik. (S.J. Shand, 1943) membagi empat macam batuan, yaitu :
1) Leucrocatic rocks, mengandung kurang 30% mineral mafik.
2) Mesocratic rocks, mengandung 30% - 60% mineral mafik.
3) Melanocratic rocks, mengandung 60% - 90% mineral mafik.
4) Hipermelanic rocks, mengandung lebih 90% mineral mafik.

Sedangkan S. Jellis, 1948 membagi empat golongan pula yaitu :
1) Holofelsic, untuk batuan beku dengan indeks warna kurang 10%
2) Felsic, untuk batuan beku dengan indeks warna 10 – 40%
3) Mafelsic, dengan indeks warna 40% - 70%
4) Mafik, batuan beku dengan indeks warna lebih 70%.

Klasifikasi yang Dipakai di Laboratorium Petrologi
Pengamatan megaskopis terutama dilakukan terhadap komposisi mineral dan kemas, maka klasifikasi yang dipakai mengikuti klasifikasi yang dikemukakan oleh (W.T. Huang 1962), yaitu berdasarkan kandungan kuarsa bebas atau silica serta kemas batuan tersebut. Disamping juga mempertimbangkan proporsi alkali feldspar dan plagioklas serta mineral utama lain. Klasifikasi lain yaitu dengan menggunakan segitiga (Streckeisen, 1974). Mengetahui nama batuan dengan cara menjumlahkn persen kuarsa, plagioklas dan orthoklas kemudian dibagi 100%. Hasil dari perhitungan tersebut di plot ke gambar segitiga, pertemuan dari ketiga titik tersebut adalah merupakan nama batuan yang didiskripsi.

Klasifikasi Batuan Beku

Tahap Penentuan Batuan Beku
Tahap pertama untuk pemerian batuan beku disini adalah dengan mengamati kehadiran kuarsa bebas serta menghitung proporsi secara relative dalam batuan. Jika kuarsa hadir dan mencapai 10% atau lebih maka jenis batuannya adalah batuan beku asam, sebaliknya jika kuarsanya kurang dari 10% maka jenis batuannya adalah kalau tidak intermedier kemungkinan lain adalah basa. Pada batuan jenis intermedier dicirikan dengana melimpahnya plagioklas basa, plagioklas asam relatih lebih cerah dibandingkan plagioklas basa. Tetapi pada kenyataannya secara megaskopis kita sulit untuk membedakan. Untuk membedakannya kita lihat persentase kandungan mineral mafic (yang utama). Bowen berpendapat bahwa batuan bsa mengandung mineral olivine dan piroksin lebih banyak disbanding mineral hornblende. Sebaliknya batuan menengah cenderung lebih banyak mengandung hornblende dibanding olivine dan piroksin. Namun kaedah ini tidak selamanya dipakai, terutama pada batuan beku vulkanik. Pada batuan beku menengah sering ditemukan piroksin seperti pada andesit piroksin dimana kehadiran piroksin melimpah, sehingga sulit dibedakan dengan basalt. Untuk itu praktikan kembali pada prinsip (W.T. Huang 1962) dimana untuk batuan beku menengah banyak mengandung plagioklas asam (lebih cerah) sedangkan batuan beku basa banyak mengandung plagioklas basa (lebih gelap).

Tahap Penamaan Batuan
Adapun tahap penamaan batuan beku didasarkan pada tekstur dan komposisi mineralnya :
Seperti deskripsi yang dilakukan di lab petrologi hal yang pertama dilihat adalah warnanya. Apabila terang maka batuan tersebut termasuk kelompok batuan beku asam dan sebaliknya apabila batun maikn gelap kemungkinan termasuk kelompok batuan beku intermedier, basa sampai ultrabasa. Kemudian hal yang dilakukan lagi ialah melihat teksturnya antara lain yaitu derajat kristalisasi, granularitas dan hubungan antar butiranya serta tekstur khusus yang ada pada batuan tersebut. Keterangan tersebut dapat diperoleh dari melihat mineral yang terkandung.
 Mineral yang ada pada sebuah batuan yang didiskripsi dibuat persentase kehadirannya, pada kelompok batuan basa asam dominan yang haid adalah kuarsa, plagioklas, orthoklas dan sedikit kehadiran hornblende dan biotit. Kandungan SiO2 66%. Nama batuan yang dibentuk adalah :
Fanerik : - granit (orthoklas >> plagioklas)
- granodiorit (plagioklas >> orthoklas)
- aplit (orthoklas >> plagioklas)
- granit pegmatite (orthoklas >> plagioklas)
Afanitik : - rhyiolit (orthoklas >> plagioklas)
- dasit (plagioklas >> orthoklas)

 Pada kelompok batuan beku intermedier dicirikan oleh warna yang cerah tetapi tidak secerah batuan asam. Kandungan komposisi mineralnya 52% - 66% dan mineral yang hadir adalah orthoklas, kuarsa dan plagioklas yang tidak melimpah seperti di batu asam kemudian hadirnya mineral hornblende dan biotit. Nama batuan yang dibentuk adalah :

Fanerik : - syenit (orthoklas >> plagioklas)
- diorit (plagioklas >> orthoklas)
Afanitik : - trakhit (orthoklas >> plagioklas)
- andesit (plagioklas >> orthoklas)

 Pada kelompok batuan beku basa dicirikan dengan warna agak gelap daripada intermedier dengan komposisi mineralnya 45% - 52%, kemudian mineral yang hadir adalah plagioklas basa yang melimpah, piroksin dan hornblende. Nama batuan yang dibentuk adalah :

Fanerik : - gabro (tekstur masiv)
Afanitik : - basalt (berongga)
Tekstur khusus : - diabas

 Pada kelompok ultrabasa dicirikan dengan warna lebih gelap dari basa dan komposisi mineralnya adalah 45% dengan kehadiran mineral olivine, piroksin, biotit dan sedikit kuarsa dan nama batuan yang dibentuk adalah :
Fanerik :
o Piroksinit apabila melimpahnya mineral piroksin
o Hornblendit apabila melimpahnya mineral hornblende
o Peridotit apabila melimpahnya mineral olivine dan piroksin
o Dunit apabila melimpahnya mineral olivine
o Serpentinit apabila melimpahnya mineral hasil ubahan piroksin dan olivine

Nama batuan tersebut dihasilkan dengan menggunakan table (W.T. Huang, 1962), tabel (segi tiga Streickesen, 1974) untuk jenis batuan beku asam, intermedier dan basa sedangkan untuk batuan beku ultrabasa ditentukan dengan mineral yang dominan ada dalam batuan tersebut.
Setelah nama batuan didapat hal terakhir yang didiskripsi adalah genesa batuannya, apakah terbentuk didalam, dekat permukaan atau diluar permukaan bumi. Apabila hal diatas sudah selesai dicari atau dianalisa maka pekerjaan diskripsi batuan telah selesai.

Selasa, 13 November 2012

batuan beku

                                  BATUAN BEKU

 Terminologi
Batuan beku adalah batuan yang terbentuk sebagai hasil pembekuan daripada magma. Magma adalah bahan cair pijar di dalam bumi, berasal dari bagian atas selubung bumi atau bagian bawah kerak bumi, bersuhu tinggi (900 – 1300 oC) serta mempunyai kekentalan tinggi, bersifat mudah bergerak dan cenderung menuju ke permukaan bumi.
Letak Pembekuan
Batuan beku dalam adalah batuan beku yang terbentuk di dalam bumi; sering disebut batuan beku intrusi. Batuan beku luar adalah batuan beku yang terbentuk di permukaan bumi; sering disebut batuan beku ekstrusi. Batuan beku hipabisal adalah batuan beku intrusi dekat permukaan, sering disebut batuan beku gang atau batuan beku korok, atau sub volcanic intrusion.
Warna Batuan Beku
Warna segar batuan beku bervariasi dari hitam, abu-abu dan putih cerah. Warna ini sangat dipengaruhi oleh komposisi mineral penyusun batuan beku itu sendiri. Apabila terjadi percampuran mineral berwarna gelap dengan mineral berwarna terang maka warna batuan beku dapat hitam berbintik-bintik putih, abu-abu berbercak putih, atau putih berbercak hitam, tergantung warna mineral mana yang dominan dan mana yang kurang dominan. Pada batuan beku tertentu yang banyak mengandung mineral berwarna merah daging maka warnanya menjadi putih-merah daging.
Tekstur Batuan Beku
Tekstur adalah hubungan antar mineral penyusun batuan. Dengan demikian tekstur mencakup tingkat visualisasi ukuran butir atau granularitas, tingkat kristalisasi mineral atau kristalinitas, tingkat keseragaman butir kristal, ukuran butir kristal, dan bentuk kristal.
Tingkat Visualisasi Granularitas
Berdasarkan pengamatan dengan mata telanjang atau memakai loupe, maka tekstur batuan beku dibagi dua, yaitu tekstur afanitik dan tekstur faneritik.
a. Afanitik adalah kenampakan batuan beku berbutir sangat halus sehingga mineral/kristal penyusunnya tidak dapat diamati secara mata telanjang atau dengan loupe.
b. Fanerik (faneritik, firik = phyric) adalah apabila di dalam batuan tersebut dapat terlihat mineral penyusunnya, meliputi bentuk kristal, ukuran butir dan hubungan antar butir (kristal satu dengan kristal lainnya atau kristal dengan kaca). Singkatnya, batuan beku mempunyai tekstur fanerik apabila mineral penyusunnya, baik berupa kristal maupun gelas/kaca, dapat diamati.
Apabila batuan beku mempunyai tekstur afanitik maka pemerian tekstur lebih rinci tidak dapat diketahui, sehingga harus dihentikan. Sebaliknya apabila batuan beku tersebut bertekstur fanerik maka pemerian lebih lanjut dapat diteruskan.
Tingkat kristalisasi atau kristalinitas
a. Holokristalin, apabila batuan tersusun semuanya oleh kristal.
b. Holohialin, apabila batuan tersusun seluruhnya oleh gelas atau kaca.
c. Hipokristalin, apabila batuan tersusun sebagian oleh kaca dan sebagian berupa kristal.
Tingkat Keseragaman Butir
a. Equigranular, apabila kristal penyusunnya berukuran butir relatif seragam. Tekstur sakaroidal adalah tekstur dimana ukuran butirnya seragam seperti gula pasir atau gula putih.
b. Inequigranular, jika ukuran butir kristal penyusunnya tidak sama.
Ukuran butir kristal : < 1 mm ——– berbutir halus
1 – 5 mm ——– berbutir sedang
5 – 30 mm ——– berbutir kasar
> 30 mm ——– berbutir sangat kasar
Bentuk Kristal
a. Euhedral, jika kristal berbentuk sempurna/lengkap, dibatasi oleh bidang kristal yang ideal (tegas, jelas dan teratur). Batuan beku yang hampir semuanya tersusun oleh mineral dengan bentuk kristal euhedral, disebut bertekstur idiomorfik granular atau panidiomorfik granular.
b. Subhedral, jika kristalnya dibatasi oleh bidang-bidang kristal yang tidak begitu jelas, sebagian teratur dan sebagian tidak. Tekstur batuan beku dengan mineral penyusun umumnya berbentuk kristal subhedral disebut hipidiomorfik granular atau subidiomorfik granular.
c. Anhedral, kalau kristalnya dibatasi oleh bidang-bidang kristal yang tidak teratur. Tekstur batuan yang tersusun oleh mineral dengan bentuk kristal anhedral disebut alotriomorfik granular atau xenomorfik granular.
Secara tiga dimensi, bentuk kristal disebut :
a. Kubus atau equidimensional, apabila ketiga dimensinya sama panjang.
b. Tabular atau papan, apabila dua dimensi kristalnya lebih panjang dari satu dimensi yang lain.
c. Prismatik atau balok, jika dua dimensi kristalnya lebih pendek dari satu dimensi yang lain. Bentuk ini ada yang prismatik pendek (gemuk) dan prismatik panjang (kurus, kadang-kadang seperti jarum).
Di dalam batuan beku bertekstur holokristalin inequigranular dan hipokristalin terdapat kristal berukuran butir besar, disebut fenokris, yang tertanam di dalam masadasar (groundmass). Kenampakan demikian disebut tekstur porfir atau porfiri atau firik. Tekstur holokristalin porfiritik adalah apabila di dalam batuan beku itu terdapat kristal besar (fenokris) yang tertanam di dalam masadasar kristal yang lebih halus. Tekstur hipokristalin porfiritik diperuntukkan bagi batuan beku yang mempunyai fenokris tertanam di dalam masadasar gelas. Karena tekstur holokristalin porfiritik dan hipokristalin porfiritik secara mata telanjang dapat diidentifikasi maka kenampakan tersebut dapat disebut bertekstur faneroporfiritik. Sebaliknya, apabila fenokrisnya tertanam di dalam masadasar afanitik maka batuannya bertekstur porfiroafanitik. Tekstur vitrofirik adalah tekstur dimana mineral penyusunnya secara dominan adalah gelas, sedang kristalnya hanya sedikit (< 10 %).
Tekstur diabasik adalah tekstur dimana kristal plagioklas berbentuk prismatik panjang (lath-like), berarah relatif sejajar dan di antaranya terdapat butir-butir lebih kecil daripada kristal olivin dan piroksen. Tekstur gabroik adalah tekstur holokristalin, berbutir sedang – kasar (Æ : 1 – 30 mm), tersusun secara dominan oleh mineral mafik (olivin, piroksen, amfibol) dan plagioklas basa. Tekstur granitik adalah tekstur holokristalin berbutir sedang-kasar tersusun oleh plagioklas asam, alkali felspar, dan kuarsa. Tekstur pegmatitik adalah tekstur holokristalin kasar – sangat kasar (Æ ³ 5 mm), tersusun oleh alkali felspar dan kuarsa. Tekstur dioritik sebanding dengan tekstur gabroik dan granitik tetapi biasanya untuk batuan beku menengah.

STRUKTUR BATUAN BEKU
1. Masif atau pejal, umumnya terjadi pada batuan beku dalam. Pada batuan beku luar yang cukup tebal, bagian tengahnya juga dapat berstruktur masif.
2. Berlapis, terjadi sebagai akibat pemilahan kristal (segregasi) yang berbeda pada saat pembekuan.
3. Vesikuler, yaitu struktur lubang bekas keluarnya gas pada saat pendinginan. Struktur ini sangat khas terbentuk pada batuan beku luar. Namun pada batuan beku intrusi dekat permukaan struktur vesikuler ini kadang-kadang juga dijumpai. Bentuk lubang sangat beragam, ada yang berupa lingkaran atau membulat, elip, dan meruncing atau menyudut, demikian pula ukuran lubang tersebut. Vesikuler berbentuk melingkar umumnya terjadi pada batuan beku luar yang berasal dari lava relatif encer dan tidak mengalir cepat. Vesikuler bentuk elip menunjukkan lava encer dan mengalir. Sumbu terpanjang elip sejajar arah sumber dan aliran. Vesikuler meruncing umumnya terdapat pada lava yang kental.
4. Struktur skoria (scoriaceous structure) adalah struktur vesikuler berbentuk membulat atau elip, rapat sekali sehingga berbentuk seperti rumah lebah.
5. Struktur batuapung (pumiceous structure) adalah struktur vesikuler dimana di dalam lubang terdapat serat-serat kaca.
6. Struktur amigdaloid (amygdaloidal structure) adalah struktur vesikuler yang telah terisi oleh mineral-mineral asing atau sekunder.
7. Struktur aliran (flow structure), adalah struktur dimana kristal berbentuk prismatik panjang memperlihatkan penjajaran dan aliran.
Struktur batuan beku tersebut di atas dapat diamati dari contoh setangan (hand specimen) di laboratorium. Sedangkan struktur batuan beku dalam lingkup lebih besar, yang dapat menunjukkan hubungan dengan batuan di sekitarnya, seperti dike (retas), sill, volcanic neck, kubah lava, aliran lava dan lain-lain hanya dapat diamati di lapangan.

 

KOMPOSISI MINERAL
Berdasarkan jumlah kehadiran dan asal-usulnya, maka di dalam batuan beku terdapat mineral utama pembentuk batuan (essential minerals), mineral tambahan (accessory minerals) dan mineral sekunder (secondary minerals).
1. Essential minerals, adalah mineral yang terbentuk langsung dari pembekuan magma, dalam jumlah melimpah sehingga kehadirannya sangat menentukan nama batuan beku.
2. Accessory minerals , adalah mineral yang juga terbentuk pada saat pembekuan magma tetapi jumlahnya sangat sedikit sehingga kehadirannya tidak mempengaruhi penamaan batuan. Mineral ini misalnya kromit, magnetit, ilmenit, rutil dan zirkon. Mineral esensiil dan mineral tambahan di dalam batuan beku tersebut sering disebut sebagai mineral primer, karena terbentuk langsung sebagai hasil pembekuan daripada magma.
3. Secondary minerals adalah mineral ubahan dari mineral primer sebagai akibat pelapukan, reaksi hidrotermal, atau hasil metamorfisme. Dengan demikian mineral sekunder ini tidak ada hubungannya dengan pembekuan magma. Mieral sekunder akan dipertimbangkan mempengaruhi nama batuan ubahan saja, yang akan diuraikan pada acara analisis batuan ubahan. Contoh mineral sekunder adalah kalsit, klorit, pirit, limonit dan mineral lempung.
4. Gelas atau kaca, adalah mineral primer yang tidak membentuk kristal atau amorf. Mineral ini sebagai hasil pembekuan magma yang sangat cepat dan hanya terjadi pada batuan beku luar atau batuan gunungapi, sehingga sering disebut kaca gunungapi (volcanic glass).
5. Mineral felsik adalah adalah mineral primer atau mineral utama pembentuk batuan beku, berwarna cerah atau terang, tersusun oleh unsur-unsur Al, Ca, K, dan Na. Mineral felsik dibagi menjadi tiga, yaitu felspar, felspatoid (foid) dan kuarsa. Di dalam batuan, apabila mineral foid ada maka kuarsa tidak muncul dan sebaliknya. Selanjutnya, felspar dibagi lagi menjadi alkali felspar dan plagioklas.
6. Mineral mafik adalah mineral primer berwarna gelap, tersusun oleh unsur-unsur Mg dan Fe. Mineral mafik terdiri dari olivin, piroksen, amfibol (umumnya jenis hornblende), biotit dan muskovit.
Pemerian dan pengenalan mineral pembentuk batuan beku tersebut secara megaskopik sudah harus dikuasai oleh para praktikan, seperti diberikan pada kuliah dan praktikum kristalografi-mineralogi serta dipraktekkan lagi pada acara I pengenalan mineral pembentuk batuan, praktikum petrologi ini. Untuk mengetahui genesa masing-masing mineral pembentuk batuan tersebut di atas, praktikan dianjurkan untuk mempelajari Reaksi Seri Bowen yang terdapat di dalam buku-buku literatur Petrologi (misal Middlemost, 1985, Magmas and magmatic rocks, Longman, Inc., London, 266 p).
PENAMAAN / KLASIFIKASI
Berdasarkan letak pembekuannya maka batuan beku dapat dibagi menjadi batuan beku intrusi dan batuan beku ekstrusi. Batuan beku intrusi selanjutnya dapat dibagi menjadi batuan beku intrusi dalam dan batuan beku intrusi dekat permukaan. Berdasarkan komposisi mineral pembentuknya maka batuan beku dapat dibagi menjadi empat kelompok, yaitu batuan beku ultramafik, batuan beku mafik, batuan beku menengah dan batuan beku felsik. Istilah mafik ini sering diganti dengan basa, dan istilah felsik diganti dengan asam, sekalipun tidak tepat.
Termasuk batuan beku dalam ultramafik adalah dunit, piroksenit, anortosit, peridotit dan norit. Dunit tersusun seluruhnya oleh mineral olivin, sedang piroksenit oleh piroksen dan anortosit oleh plagioklas basa. Peridotit terdiri dari mineral olivin dan piroksen; norit secara dominan terdiri dari piroksen dan plagioklas basa. Batuan beku luar ultramafik umumnya bertekstur gelas atau vitrofirik dan disebut pikrit.
Batuan beku dalam mafik disebut gabro, terdiri dari olivin, piroksen dan plagioklas basa. Sebagai batuan beku luar kelompok ini adalah basal. Batuan beku dalam menengah disebut diorit, tersusun oleh piroksen, amfibol dan plagioklas menengah, sedang batuan beku luarnya dinamakan andesit. Antara andesit dan basal ada nama batuan transisi yang disebut andesit basal (basaltic andesit). Batuan beku dalam agak asam dinamakan diorit kuarsa atau granodiorit, sedangkan batuan beku luarnya disebut dasit. Mineral penyusunnya hampir mirip dengan diorit atau andesit, tetapi ditambah kuarsa dan alkali felspar, sementara palgioklasnya secara berangsur berubah ke asam. Apabila alkali felspar dan kuarsanya semakin bertambah dan palgioklasnya semakin asam maka sebagai batuan beku dalam asam dinamakan granit, sedang batuan beku luarnya adalah riolit. Di dalam batuan beku asam ini mineral mafik yang mungkin hadir adalah biotit, muskovit dan kadang-kadang amfibol. Batuan beku dalam sangat asam, dimana alkali felspar lebih banyak daripada plagioklas adalah sienit, sedang pegmatit hanyalah tersusun oleh alkali felspar dan kuarsa. Batuan beku yang tersusun oleh gelas saja disebut obsidian, dan apabila berstruktur perlapisan disebut perlit.
Nama-nama batuan beku tersebut di atas sering ditambah dengan aspek tekstur, struktur dan atau komposisi mineral yang sangat menonjol. Sebagai contoh, andesit porfir, basal vesikuler dan andesit piroksen. Penambahan nama komposisi mineral tersebut umumnya diberikan apabila persentase kehadirannya paling sedikit 10 %. Perkiraan persentase kehadiran mineral pembentuk batuan (Tabel 3.4) dan tabel klasifikasi batuan beku (Tabel 3.5) dapat membantu memberikan nama terhadap batuan beku.
Tabel 3.4 Diagram persentase untuk perkiraan komposisi berdasarkan volume.
clip_image002

Tabel 3.5 Klasifikasi batuan beku (O’Dunn & Sill, 1986)
clip_image004
BATUAN PIROKLASTIKA (PYROCLASTIC ROCKS)
Batuan piroklastika adalah suatu batuan yang berasal dari letusan gunungapi, sehingga merupakan hasil pembatuan daripada bahan hamburan atau pecahan magma yang dilontarkan dari dalam bumi ke permukaan. Itulah sebabnya dinamakan sebagai piroklastika, yang berasal dari kata pyro berarti api (magma yang dihamburkan ke permukaan hampir selalu membara, berpendar atau berapi), dan clast artinya fragmen, pecahan atau klastika. Dengan demikian, pada prinsipnya batuan piroklastika adalah batuan beku luar yang bertekstur klastika. Hanya saja pada proses pengendapan, batuan piroklastika ini mengikuti hukum-hukum di dalam proses pembentukan batuan sedimen. Misalnya diangkut oleh angin atau air dan membentuk struktur-struktur sedimen, sehingga kenampakan fisik secara keseluruhan batuannya seperti batuan sedimen. Pada kenyataannya, setelah menjadi batuan, tidak selalu mudah untuk menyatakan apakah batuan itu sebagai hasil kegiatan langsung dari suatu letusan gunungapi (sebagai endapan primer piroklastika), atau sudah mengalami pengerjaan kembali (reworking) sehingga secara genetik dimasukkan sebagai endapan sekunder piroklastika atau endapan epiklastika. Berdasarkan ukuran butir klastikanya, sebagai bahan lepas (endapan) dan setelah menjadi batuan piroklastika, penamaannya seperti pada Tabel 3.6.
Bom gunungapi adalah klastika batuan gunungapi yang mempunyai struktur-struktur pendinginan yang terjadi pada saat magma dilontarkan dan membeku secara cepat di udara atau air dan di permukaan bumi. Salah satu struktur yang sangat khas adalah struktur kerak roti (bread crust structure). Bom ini pada umumnya mempunyai bentuk membulat, tetapi hal ini sangat tergantung dari keenceran magma pada saat dilontarkan. Semakin encer magma yang dilontarkan, maka material itu juga terpengaruh efek puntiran pada saat dilontarkan, sehingga bentuknya dapat bervariasi. Selain itu, karena adanya pengeluaran gas dari dalam material magmatik panas tersebut serta pendinginan yang sangat cepat maka pada bom gunungapi juga terbentuk struktur vesikuler serta tekstur gelasan dan kasar pada permukaannya. Bom gunungapi berstruktur vesikuler di dalamnya berserat kaca dan sifatnya ringan disebut batuapung (pumice). Batuapung ini umumnya berwarna putih terang atau kekuningan, tetapi ada juga yang merah daging dan bahkan coklat sampai hitam. Batuapung umumnya dihasilkan oleh letusan besar atau kuat suatu gunungapi dengan magma berkomposisi asam hingga menengah, serta relatif kental. Bom gunungapi yang juga berstruktur vesikuler tetapi di dalamnya tidak terdapat serat kaca, bentuk lubang melingkar, elip atau seperti rumah lebah disebut skoria (scoria). Bom gunungapi jenis ini warnanya merah, coklat sampai hitam, sifatnya lebih berat daripada batuapung dan dihasilkan oleh letusan gunungapi lemah berkomposisi basa serta relatif encer. Bom gunungapi berwarna hitam, struktur masif, sangat khas bertekstur gelasan, kilap kaca, permukaan halus, pecahan konkoidal (seperti botol pecah) dinamakan obsidian. Blok atau bongkah gunungapi dapat merupakan bom gunungapi yang bentuknya meruncing, permukaan halus gelasan sampai hipokristalin dan tidak terlihat adanya struktur-struktur pendinginan. Dengan demikian blok dapat merupakan pecahan daripada bom gunungapi, yang hancur pada saat jatuh di permukaan tanah/batu. Bom dan blok gunungapi yang berasal dari pendinginan magma secara langsung tersebut disebut bahan magmatik primer, material esensial atau juvenile). Blok juga dapat berasal dari pecahan batuan dinding (batuan gunungapi yang telah terbentuk lebih dulu, sering disebut bahan aksesori), atau fragmen non-gunungapi yang ikut terlontar pada saat letusan (bahan aksidental).
Tabel 3.6 Klasifikasi batuan piroklastika.
Ukuran butir
Nama butiran (klastika)
Nama batuan
Æ > 64 mm
Bom gunungapi
Blok/bongkah gunungapi
Aglomerat
Breksi piroklastika
2 – 64 mm
Lapili
Batulapili
1 – 2 mm
Abu gunungapi kasar (pasir kasar)
Tuf kasar
Æ < 1 mm
Abu gunungapi halus
Tuf halus
Berdasarkan komposisi penyusunnya, tuf dapat dibagi menjadi tuf gelas, tuf kristal dan tuf litik, apabila komponen yang dominan masing-masing berupa gelas/kaca, kristal dan fragmen batuan. Tuf juga dapat dibagi menjadi tuf basal, tuf andesit, tuf dasit dan tuf riolit, sesuai klasifikasi batuan beku. Apabila klastikanya tersusun oleh fragmen batuapung atau skoria dapat juga disebut tuf batuapung atau tuf skoria. Demikian pula untuk aglomerat batuapung, aglomerat skoria, breksi batuapung, breksi skoria, batulapili batuapung dan batulapili skoria.
PETROGENESA BATUAN BEKU
Petrogenesa adalah bagian dari petrologi yang menjelaskan seluruh aspek terbentuknya batuan mulai dari asal-usul atau sumber, proses primer terbentuknya batuan hingga perubahan-perubahan (proses sekunder) pada batuan tersebut. Untuk batuan beku, sebagai sumbernya adalah magma. Proses primer menjelaskan rangkaian atau urutan kejadian dari pembentukan berbagai jenis magma sampai dengan terbentuknya berbagai macam batuan beku, termasuk lokasi pembekuannya. Setelah batuan beku itu terbentuk, batuan itu kemudian terkena proses sekunder, antara lain berupa oksidasi, pelapukan, ubahan hidrotermal, penggantian mineral (replacement), dan malihan, sehingga sifat fisik maupun kimiawinya dapat berubah total dari batuan semula atau primernya.
Berhubung proses petrogenetik tersebut sebagian besar berlangsung lama (dalam ukuran waktu geologi), dan umumnya terjadi di bawah permukaan bumi, sehingga tidak dapat diamati langsung, maka analisis atau penjelasannya bersifat interpretatif. Pembuktian mungkin dapat ditunjukkan berdasar hasil-hasil eksperimen di laboratorium, sekalipun hanya pada batas-batas tertentu. Analisis interpretatif tersebut tetap didasarkan pada data obyektif atau deskriptif hasil pemerian yang meliputi warna, tekstur, struktur, komposisi mineral dan kenampakan khusus lainnya. Dengan demikian studi petrogenesa pada prinsipnya untuk mencari jawaban atau penjelasan terhadap pertanyaan “Mengapa” (Why) dan “Bagaimana” (How) terhadap data pemerian batuan. Misalnya, mengapa batuan beku luar bertekstur gelasan dan berstruktur vesikuler, sedang batuan beku dalam bertekstur kristalin dan berstruktur masif. Mengapa basal berwarna gelap sedang pegmatit berwarna cerah ? Bagaimana kejadiannya olivin dapat muncul bersama kuarsa dan biotit di dalam satu batuan ? Bagaimana terbentuknya andesit dari basal dan riolit ?

Senin, 12 November 2012

batuan metamorf



                                             PRAKTIKUM GEOLOGI FISIK
ACARA     : BATUAN METAMORF          NAMA : RUSLAN MOH. KASIM
HARI/TGL : SELASA / 01-11-2011              STB      :  09320110021
No. Urut                               : 01
1.      WARNA                        : SEGAR : Abu-abu keputihan
                                          LAPUK : Agak Kekuningan
2.      TEKSTUR                     :
A.    FOLIASI
Jenis Tekstur           : Lepidoblastik
Bentuk Kristal        : Xenoblastik
3.      STRUKTUR                  : GENEISSOSE
4.      KOMPOSISI MINERAL         :
NAMA MINERAL
PERSENTASE (%)
KUARSA
35 %
FELDSPAR
25 %
CHLORIT
15%
AUSKOVIT
30 %
Nama Batuan       :  GENIS
Keterangan          : Genis memiliki warna segar abu-abu keputihan, warna lapuk agak kekuningan tekstur foliasi, jenis teksturnya lepidioblastik, dan tekstur geneissose. Genis memiliki komposisi mineral yakni kuarsa 35 %, felspar 25 %, chlorit 15 %, dan auskovit 30 %. Genis merupakan batuan beku dalm temperatur dan tekanan yang tinggi. Dengan suhu sekitar 8000 C, termasuk dalam jenis metamorfisme regional. Karena batuan ini termasuk dalam jenis metamorfosis regional sehingga biasanya terdapat di daerah sekitar industri magma. Batuan ini berasosiasi dengan kuarsa, muskovit, dan biotit. Bantuan ini berguna sebagai agregat, atau batu untuk bangunan.
Referensi : Budi Rechmanto. 2005, Geologi Fisik, Unhas, Makassar
                    Suka ndarrumi, 1998. Bahan Galian Industri Yogyakarta
                    Penuntun praktikum geologi fisik, Umi, Makassar


 













                  
No. Urut                               : 02
1.      WARNA                        : SEGAR : Putih bening
                                          LAPUK : Hijau kehitaman
2.      TEKSTUR                     :
B.     NON FOLIASI
Jenis Tekstur           : Granulose
Bentuk Kristal        : Hipidioblastik
3.      STRUKTUR                  : GRANULOSE
4.      KOMPOSISI MINERAL
NAMA MINERAL
PRESENTASE (%)
KUARSA
100 %
Nama Batuan          : KUARSIT
Keterangan             : Kuarsit memiliki warna segar putih bening, warna hijau kehitaman dengan tekstur non foliasi serta jenis teksturnya granulose, bentuk kristal hipidioblastik dan teksturnya granulose. Kuarsit memiliki komposisi mineral mineral yakni kuarsa 100%. Batuan ini terbentuk karena mendapat temperatur dan tekanan yang tinggi, batuan ini akan mengalami kristalisasi pada temperatur minimum 8000C atau pada tekanan 5,5 kilobar. Termasuk dalam metamorfisme regional. Batuan ini biasanya ditentukan didaerah sekitar gunung berapi. Batuan ini berasosiasi dengan batupasir kuarsa. Batuan ini berguna sebagai bahan pembuatan bola refraktori, bahan penggosok dan bahan bangunan.
Referensi                : Budi Rochmanto. 2005. Geologi Fisik, Unhas, Makassar
                                  Sukandarrumi, 1998. Bahan Galian Industri, Yokyakarta
                                  Penuntun Praktikum Geologi Fisik, UMI. Makassar
                                  Geohazard 009. Wordpress.com. tgl posting 12-08-2009















No. Urut                               : 03
1.      WARNA                        : SEGAR : Putih
                                          LAPUK : Merah Kecoklatan
2.      TEKSTUR                     :
C.     NON FOLIASI
Jenis Tekstur           : Granulose
Bentuk Kristal        : Idioblastik
3.      STRUKTUR                  : GRANULOSE
4.      KOMPOSISI MINERAL
NAMA MINERAL
PRESENTASE (%)
KALSIT
30 %
MAGNESIUM
40 %
Ca- SILIKA
30 %
Nama Batuan           : MARMER
Keterangan               : Marmer memiliki warna segar putih, warna lapuk merah kecoklatan, tekstur non foliasi, dengan jenis tekstur granulose, dan bentuk kristal idioblastik, serta strukturnya granulose. Marmer memiliki komposisi mineral yakni kalsit 30%, magnesium 40%, dan Ca-silka 30%. Batuan ini terbentuk karena proses metamorfose yang berasal dari batu gamping yang proses metamorfose regional. Batuan ini terbentuk pada temperatur 9000 C – 10000 C.
                                    Marmer termasuk dalam metamorfosis kontak atau regional. Batuan ini biasa ditemukan didaerah sekitar gunung berapi atau daerah industri mgma. Batuan ini berasosiasi dengan batupualam dan batugamping. Dinding dan lantai dan juga digunakan untuk pembuatan barang – barang kerajinan dan sebagai hiasan.
Referensi                  : Budi rochmanto.2005. Geologi Fisik, Unhas, Makassar
                                   Sukandarrumi, 1998. Bahan Galian Industri, Yokyakarta
                                   Penentuan Praktikum Geologi Fisik, Umi, Makassar